HOTLINK :

Juni 2013
MgSnSlRbKmJmSb
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
 
Agenda Hari Ini :
  Agenda tidak ada


Suhu
Kelembaban
(sumber : www.bmg.go.id)
Januari 2013
Februari 2013
Maret 2013
April 2013
Mei 2013
Juni 2013
 

 
Pemetaan Sosial Khas Bangun Mandar
Oleh : Busman DS (Ketua Pelaksana Harian Bangun Mandar)
Ada sebuah ungkapan yang sangat menyentuh rasa dan qalbu penulis yang terungkap dari salah seorang warga desa dampingan Faskom yang menarik dicermati terkait hasil pemetaan sosial. Menurut beliau, di desa ini sudah puluhan kali kami tidak lagi melakukan shalat jumat berjamaah di masjid. Di samping karena tidak ada yang berinisiatif menyelenggarakan juga karena pemahaman warga masih kurang terkait hukum shalat jumat berjamaah itu.

Hal menarik lainnya, selama sekolah dasar kecil di dusun ini didirikan belum pernah diadakan upacara bendera yang melibatkan siswa dan staf pengajar. Maka sangat wajar kalau tidak seorang siswa pun, yang jumlahnya sekitar 30 (tiga puluh) anak yang terdiri atas tiga kelas dengan sebaran siswa bervariasi dari kelas I – kelas VI, yang bisa hafal lagu pengantar ketika mengheningkan cipta dan lagu Indonesia Raya. Apalagi tahu dan paham proses pelaksanaan upacara bendera yang lazimnya dilaksanakan anak seusia mereka di sekolah lain.  
   
Dua ungkapan tulus warga di atas terasa sangat ironis dan mencerminkan sedemikian tertinggalnya akses informasi dan pemahaman mereka terhadap kehidupan luar sana yang penuh warna dan hiruk pikuk kehidupan yang serba dinamis. Kehadiran Faskom kemudian menjadi sangat bermakna sebagai pemicu dan penggerak terjadinya proses transformasi sosial.

Berkat inisiasi dan inisiatif Faskom bersama beberapa tokoh masyarakat, maka warga di sana kembali melaksanakan shalat jumat secara berjamaah di masjid yang rupanya sudah sangat lama mereka rindukan. Hal yang sama pernah mereka lakoni sebelum Ramadhan tahun lalu, namun terhenti dengan sendirinya karena tidak ada orang atau pihak yang menggerakkan hal tersebut.

Demikian halnya sekolah dasar kecil tadi, siswa yang tadinya lebih banyak berkeliaran karena ketidakhadiran guru lambat laun teratasi dengan terjun langsungnya Faskom memfasilitasi agar proses belajar mengajar tetap berjalan di sekolah tersebut. Termasuk mencoba menyadarkan kepada siswa tentang pentingnya arti sebuah aktivitas bernama upacara bendera.    

Kondisi di atas tentunya hanyalah salah satu gambaran realitas yang terjadi di salah satu desa dampingan Bangun Mandar. Realitas yang sama dengan masalah yang berbeda tentunya juga berpotensi terjadi di 65 lokasi dampingan lainnya. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang Faskom dalam melakukan dan memanfaatkan hasil pemetaan sosial sebagai ‘amunisi’ dalam melakukan sentuhan-sentuhan penyadaran dan pemberdayaan sejati dengan tetap pada prinsip tidak mengambil alih ranah belajarnya masyarakat.

Masyarakat tetap harus diberi ruang yang lebih besar dalam melakukan proses perubahan seperti yang mereka impikan, Faskom sebatas memfasilitasi percepatan proses perubahan tersebut. Semua proses fasilitasi tadi berawal dari hasil kajian pemetaan sosial yang dilakukan Faskom sebelum menyusun strategi yang pas dalam melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

Pemetaan sosial secara sosiologis dan filosofis bertujuan untuk memetakan kondisi sosial budaya suatu masyarakat dalam wilayah tertentu yang berguna untuk perencanaan program. Pemetaan sosial dalam konteks Bangun Mandar sebenarnya adalah semacam orientasi awal Faskom di wilayah dampingannya sebelum kegiatan sosialisasi awal yang dilakukan sendiri oleh fasilitator untuk kepentingan strategi pendampingan.

Hasil kongkrit dari kegiatan pemetaan sosial adalah data dan informasi awal mengenai kondisi sosial budaya setempat termasuk di dalamnya kelompok sosial di masyarakat dan kelompok  yang berpengaruh baik laki-laki maupun perempuan, yang akan menjadi dasar dalam menentukan strategi pendampingan dan strategi sosialisasi. Kegiatan pemetaan sosial merupakan titik masuk program, oleh karenanya penting untuk membangun kepercayaan masyarakat dengan memberikan pemahaman tentang identitas, maksud kedatangan, dan tujuan program.

Prinsip santai dan informal menjadi sebuah keharusan dalam melakukan pemetaan sosial ini. Faskom bisa memanfaatkan media-media pertemuan informal seperti; waktu luang masyarakat di sela-sela kerjaan di kebun atau di sawah, di pos ronda, di warung, di tempat dimana biasanya masyarakat menghabiskan waktu santainya setelah seharian mencari nafkah dan tempat-tempat informal lainnya. Dengan demikian diharapkan muncul kesadaran kritis masyarakat bahwa pemetaan sosial demi kepentingan masyarakat dan bukan sekedar kepentingan laporan program semata-mata. Format isian hanyalah sebuah instrumen, yang lebih utama adalah proses penggalian informasinya harus efektif di masyarakat, jadi Faskom sangat diharapkan tidak terjebak bahwa kegiatan pemetaan sosial menjadi kegiatan pengisian format semata-mata.

Masyarakat desa merupakan sebuah entitas sosial. Dimana interaksi sosial terjadi dan membentuk pola hubungan sosial di dalam struktur kemasyarakatan. Ada berbagai modal sosial, simpul sosial, dan stratifikasi sosial yang secara keseluruhan akan menentukan bentuk hubungan sosial di tengah masyarakat. Pola hubungan sosial pada dasarnya ditentukan oleh motif sosial, baik berupa kepentingan maupun digerakkan oleh nilai-nilai yang pada akhirnya akan menentukan pola, sikap, dan perilaku masyarakat di dalam melakukan aktivitas sosialnya.

Bangun Mandar dalam kerangka pelaksanaannya bertujuan menggagas sebuah proses keberlanjutan program oleh masyarakat secara mandiri, maka unsur perubahan dari dalam diri masyarakat merupakan acuan utama. Perubahan dari dalam diri masyarakat dilakukan dengan proses penggalian nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini ada dan tumbuh terus di tengah-tengah masyarakat. Kearifan lokal dimaksud antara lain; sikap gotong royong, saling mempercayai, saling peduli, sikap egaliter, dan mengedepankan nilai-nilai sipamandar atau sipamanda’ dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada di wilayahnya masing-masing.  

Untuk itu, semua pelaku Bangun Mandar, khususnya Faskom harus tahu dan paham budaya masyarakat yang didampingi khususnya nilai-nilai yang dianut, hubungan sosial yang terjadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Agar tahu dan paham budaya masyarakat setempat, Faskom perlu melakukan satu siklus khusus yang menjadi ‘mainan’ bersama masyarakat dalam mengawali proses membangun kesadaran kritis yang kita kemas dengan istilah Pemetaan Sosial (Social Mapping).

Proses pemetaan sosial mengarahkan tergalinya secara santai nilai-nilai dominan yang dianut masyarakat. Termasuk modal sosial yang mampu mendorong proses transformasi dari dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian beberapa hal terkait proses pemetaan sosial ini akan menjadi menarik dan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti penting kehadiran program yang dikawal oleh Faskom bersama semua stakeholder Bangun Mandar.

Selain itu, tergali pula karakteristik masyarakat, khususnya dalam menyikapi intervensi sosial berwujud rekayasa sosial dan pembelajaran sosial. Pola informasi dan komunikasi yang terjadi di tengah masyarakat, baik penyebaran informasi maupun dalam kerangka pembelajaran. Media-media apa dan sumber belajar apa yang digunakan dan diyakini masyarakat sebagai sarana informasi dan pembelajaran. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku masyarakat baik yang positif maupun yang negatif.

Secara sederhana hasil yang akan diperoleh dari proses pemetaan sosial ini dirangkum dalam sebuah kerangka data dan informasi yang tertuang dalam bentuk data demografi. Data demografi ini akan memuat data jumlah penduduk,  komposisi penduduk menurut usia, mata pencaharian, agama, pendidikan, dan sebagainya. Kemudian data geografi, di sini akan tertuang semua hal terkait topografi, letak lokasi ditinjau dari aspek geografis, aksesibilitas lokasi, dan pengaruh lingkungan geografis terhadap kondisi sosial masyarakat.  

Adapun data psikografi akan banyak memuat data tentang nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut, mitos, kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, karakteristik masyarakat, pola hubungan sosial yang ada, motif yang menggerakkan tindakan masyarakat, pengalaman masyarakat, pandangan dan sikap perilaku terhadap intervensi dari luar, serta kekuatan sosial yang paling berpengaruh.

Dan akhirnya, pola komunikasi. Pola komunikasi ini akan merekam media yang dikenal dan digunakan, bahasa, kemampuan baca tulis, orang yang dipercaya, informasi yang biasa dicari, tempat memperoleh informasi, dan pola-pola komunikasi lainnya.  

Model pendekatan yang digunakan dalam proses pemetaan sosial ini ada dua macam. Pertama, pengumpulan data sekunder diambil dari kantor desa, kantor kecamatan, atau bahkan di kabupaten. Datanya bisa dari foto, monografi desa, dan dokumen-dokumen laporan yang ada di desa. Kedua, pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara berstruktur kepada anggota masyarakat yang dianggap mengetahui informasi yang diperlukan (Kepala Desa, Ketua BPD, pimpinan lembaga lokal, pemuka masyarakat, dan pemuka agama). Kemudian observasi (pengamatan langsung) terhadap kondisi-kondisi lingkungan fisik, lingkungan sosial, hubungan sosial, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat.

Proses menemukenali secara santai dan nyaris bernuansa silaturahmi (dikemas dalam istilah pemetaan sosial) tadi tentunya membutuhkan waktu yang relatif lama (kurang lebih sebulan) dalam pelaksanaannya. Di samping itu, kapasitas seorang Faskom dalam melakoni proses santai ini tentunya juga sangat menentukan keberhasilan penggalian informasi yang valid dan konsisten. Validitas sebuah hasil analisis ringan menjadi sebuah keniscayaan dalam memetakan kondisi sosial budaya suatu masyarakat yang nantinya dimanfaatkan sebagai basis perencanaan program.

Selebihnya, selamat bagi yang telah menikmati proses pemetaan sosial ‘secara santai’ khususnya masyarakat dampingan Bangun Mandar dan sukses bagi para Faskom yang sebentar lagi akan melewati siklus refleksi dan penyadaran kritis. Sementara pada saat yang hampir bersamaan, siklus pemetaan potensi R-O-N sedang menanti di depan mata.


Penulis adalah mahasiswa program doktor sosiologi UNM Makassar
Email : busman_ds@yahoo.co.id

OPINI LAINNYA
Lapas Majene Dibangun 2015 ( Oleh : Ahmad )
Camat Ulumanda Siap Sukseskan Pemilu 2014 ( Oleh : Ahmad )
Eksistensi Fasilitator Komunitas Bangun Mandar ( Oleh : Busman DS (Ketua Pelaksana Harian Bangun Mandar) )
Bangun Mandar, Sebuah Alternatif Inovasi dan Solusi Penanggulangan Kemiskinan di Provinsi Sulawesi Barat ( Oleh : Busman DS )
URGENSI PERENCANAAN YANG BAIK PROGRAM LEGISLASI PRODUK HUKUM DI DAERAH ( Oleh : H. Sufyan Sagena,SH,M.Si. )
BIOFUEL Solusi Alternatif Dalam Mengatasi Krisis Energi Minyak ( Oleh : Muhammad Rislan Zakariah )
PELAYANAN PRIMA DAPAT MENCIPTAKAN MULTI PLIER EFFECT ( Oleh : Muhammad Rislan )
Memaknai Etika Pemerintahan ( Oleh : H. Sufyan Sagena )
"TORANI" Mutiara dari Teluk Mandar ( Oleh : Harun, S.Kel )
 
 
NAMA SITUS
KOMPLEKS MAKAM DA'ALA
LOKASI
RUSUNG KEL / DESA PANGALI-ALI KEC. BANGGAE
KESEJARAHAN
MAKAM TOMAKAKA DA'ALA YANG DIPERCAYAI OLEH MASYARAKAT BAHWA TOMAKAK DA'ALA ADALAH NENEK PATTORI BUNGA SUAMI TOMANUNRUNG DI PATTUQDUANG
[LIHAT SEMUA SITUS]
LAPAS MAJENE DIBANGUN 2015
Oleh : Ahmad
Tekad Pemerintah Kabupaten Majene untuk membangun Lembaga Pemasyarakatan belum bisa terwujud tahun ini. Meski tim dari Kemenkumham yang sudah melakukan survey di tiga titik yang diakan dibangun Lapas itu sudah dilaporkan ke Bupati Majene. Ada tiga titik yang dilirik Pemkab Majene, masing-masing belakang lokasi rencana pembangunan STAI Al Mardiyah Passarang, kedua lokasi yang berada di daerah Teppo, dan ketiga adalah samping kantor Polsek Banggae.

Dari tiga titik lokasi itu, hanya samping Kantor Polsek Banggae saja yang dinilai memenuhi kriteria. Dua lokasi yang sudah disurvey, menurut tim belum memenuhi standar terkait dengan akses jalan dan posisi yang tidak strategis. Ditemui diruang kerjanya, Kepala Rutan Kelas II B Majene, Syahruddin mengatakan bahwa pembangunan Lapas Majene ini diprediksi tahun 2015 terbangun.

CAMAT ULUMANDA SIAP SUKSESKAN PEMILU 2014
Oleh : Ahmad
Dari 179 pejabat Pemerintah Kabupaten Majene yang dimutasi Bupati, H Kalma Katta. Salah seorang diantaranya Hardi Yasin. Mantan pejabat Pemerintah Provinsi Sulbar ini hijrah ke Kabupaten Majene pada akhir tahun 2012 lalu. Sejak itu, Hardi Yasin mengabdi sebagai staf biasa di bagian pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Majene.

Tak disangka, namanya tercatut dalam daftar sebagai pejabat yang dimutasi. Dia diberi amanah bupati untuk menduduki posisi eselon III. Begitu mendapat perhatian dan kepercayaan dari Bupati Majene, H Kalma Katta, Hardi Yasin dilantik menjadi Camat Ulumanda menggantikan Ahmad. Camat Ulumanda lama dipindah sebagai Camat Malunda gantikan Iskandar Batiran. Hasilnya, Hardi Yasin dan Ahmad melakukan koordinasi untuk penjadwalan serahterima jabatan.

[HOME][SEKILAS MAJENE] [PEMERINTAHAN][POTENSI DAERAH] [LAYANAN PUBLIK] [DOWNLOAD] [KONTAK PEMKAB]
All Rights Reserved. Pemerintah Kabupaten Majene 2008